Chatbot sebenarnya bukan barang baru. Teknologi ini sudah dikenal sejak tahun 1950-an. Adalah Alan Turing yang kali pertama mempublikasikan artikel berjudul “Computing Machinery and Intelligent”.

Dalam tulisannya, Turing mengemukakan sebuah tes untuk menilai kecerdasan komputer. Kriteria kecerdasan bergantung pada kemampuan komputer dalam meniru percakapan manusia. Semakin persis percakapannya, komputer dianggap semakin cerdas.

Gagasan Turing mendapat respons positif dari sejumlah perusahaan teknologi. Pada dekade 1960-an, bermunculan program komputer yang mampu berinteraksi dengan manusia. Namun, program tersebut baru sebatas coba-coba.

Pada tahun 1966, Massachusetts Institute of Technology resmi mirilis chatbot bernama ELIZA. Chatbot ini diprogram sebagai psikoterapis yang mampu menjawab sejumlah pertanyaan sederhana.

Setelah ELIZA, lahir chatbot lain seperti JULIA pada 1990-an. Andrew Leonard, penulis buku Bots: The Origin of New Species menyebut Julia sebagai chatbot dengan sentuhan rasa baru.

Tak lama setelah itu, muncul Cleverbot pada 1997. Chatbot bikinan Rollo Carpenter ini disebut-sebut sebagai chatbot paling canggih era 1990-an. Selain Celverbot ada juga chatbot lain seperti MegaHAL, CONVERSE, ELIZABETH, dan ALICE.

 

 

 

Chatbot kini terus berkembang. Perusahaan macam Google, Microsoft, Facebook, dll terus berinovasi menyempurnakan teknologi ini. Mereka yakin chatbot akan menjadi asisten manusia terbaik dan paling setia.